Neno warisman, Jangan Marah ke Anak

neno warisman 284026_354238531333149_1367190627_n[1]

Surabaya (ANTARA News) – “Fitrah anak adalah bermain, karena setiap anak itu memiliki ruang imajinasi yang harus dibesarkan, terutama saat ‘usia emas’ mereka, usia 1-6 tahun,” kata Neno Warisman, di Surabaya, Sabtu.

Penyanyi dan penulis itu meminta para orangtua menghindar kan diri marah pada anak, karena kemarahan memiliki dapat negatif pada anak saat dewasa.
Saat berbicara dalam Menjadi Orangtua Cerdas  dalam rangka pameran pendidikan Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah Surabaya, ia menjelaskan kemarahan akan menutup ruang imajinasi itu.
“Padahal, ruang imajinasi anak itu memiliki 4.000 byte per detik di dalam otak dan 4 miliar byte per detik di dalam hati, tentu anak itu akan rugi bila ruang itu tertutup,” kata aktris yang kini dalam bidang pendidikan dan sosial itu.
Sebaliknya, ruang imajinasi itu harus ditaburi dengan kebaikan dan kata-kata positif. “Jangan marah atau memaksa, meski pun atas nama agama, misalnya menyuruhnya shalat,” katanya.
Menurut dia, Rasullah merupakan tokoh yang patut diteladani dalam mendidik anak. “Rasulullah sangat santun dan mulia pada anak, bukan kasar dan ceroboh seperti kita,” katanya.
Dalam dialog itu, seorang peserta dari Nganjuk mengajukan pertanyakan dengan terisak, karena merasa berdosa, sebab sering memarahi anaknya, sehingga ia meminta saran tentang kiat tidak marah.
“Tips supaya tidak mudah marah adalah banyak minum air, karena orang yang marah itu hakekatnya mengalami dehidrasi. Cara lain adalah coba gunakan cara berbeda dalam menyikapi setiap tantangan,” katanya.
Cara lain lagi, bila sudah sangat frustasi, maka pahami makna ayat-ayat dalam Al Fatihah yang setiap ayat selalu dijawab langsung oleh Allah SWT. “Insya Allah, kita akan bisa bersabar,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Neno mengungkap pengalaman pribadi ketika mendampingi anaknya yang kecanduan permainan dalam jaringan atau pengalaman kakak ipar dengan keponakan yang autis. “Kalau kita menerima tantangan berarti Allah menganggap kita adalah istimewa,” katanya.
Senada dengan itu, pendongeng yang akrab disapa Kak Gentong menambahkan ruang imajinasi pada anak memang sangat besar dan hal itu bisa dikembangkan dengan dongeng.
“Misalnya, kalau kita menjelaskan fungsi sendok dengan teori bahwa sendok itu memiliki fungsi ini dan itu, maka hal itu tidak akan mudah diterima,” katanya.
Namun, bila dengan dongeng, maka alam bawah sadar akan mudah menerima. “Misalnya, kita gambarkan sendok sebagai sosok yang mirip seseorang dengan suara yang berbeda-beda,” katanya.
Sementara itu, pengurus Forum PAUD Jatim, Totok, mengatakan kalimat negatif atau suka menyalahkan anak akan membuat seorang anak sulit bangun dari kegagalan dan menjadi orang hebat.

Editor: Ade Marboen

Incoming search terms: